Minggu, 24 Juni 2012

PENDEKATAN FENOMENOLOGIS DALAM STUDI ISLAM


Abstrak

Dalam studi Islam, terdapat dua hal pokok yang menjadi obbyek studinya, yakni ide dan keberagamaan. Al-quran dan Hadis masuk dalam kategori ide. Penelitian terkait dengan keduanya merupakan wilayah ide. Sedangkan keberagamaan lebih merupakan manifestasi dari idea tau sebuah rekayasa sosial yang tampil dalam bentuk sikap dan perilaku, baik sikap dan perilaku individu, komunitas, maupun public secara umum. Sikap dan perilaku ini merupakan tingkah laku yang secara ekstrovert dapat dibaca dan diterjemahkan. Di sinilah letak urgensi pendekatan fenomenologis karena apa yang tampak merupakan sebuah fenomena yang memiliki makna. Fenomena tentu tidak berdiri sendiri, tetapi didasari oleh nomena. Nomena kemudian ditangkap selanjutnya ditafsirkan dan disimpulkan.

Kata kunci: nomena, fenomena, interpretasi, dan konklusi.

A.    Pendahuluan
Filsafat positivisme dengan paradigma kuantitatif-ilmiah dalam studi sosial dan humaniora telah menghegemoni sekian lama di era moderen pasca renaissance Eropa, namun kemudian terkesan memudar setelah munculnya filsafat fenomenologi yang dielaborasi menjadi sebuah pendekatan dalam paradigma kualitatif-alamiah di era posmodernisme guna melakukan kegiatan penelitian ilmiah khususnya dalam studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
Fenomenologi sebagai sebuah pendekatan terasa belum dipahami secara logis pada masa-masa awal ketika Edmund Husserl (1859-1938) sejak pertama kali mencetuskannya. Setelah menunggu sekian lama kemudian terjadilah perkembangan yang sangat spektakuler dalam dunia penelitian sehingga pendekatan fenomenologis mampu diterjemahkan dengan baik dalam studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora, [1] tidak terkecuali studi Islam. 







[1] H. Moh. Natsir Mahmud, Bunga Rampai Epistemologi dan Metode Studi Islam, (Ujung Pandang: IAIN Alauddin Ujung Pandang, 1998), h. 76.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar